Majas (figurative language) adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam bahasa untuk efek-efek tertentu yang menimbulkan kesan imajinatif bagi pembaca, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra, dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis.
Majas Perbandingan
Asosiasi (simile) : Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit hal yang berbeda tapi dianggap sama. Ditandai dengan kata depan dan penghubung bagai, bagaikan, seumpama, seperti.
Contoh : Seperti kucing dengan anjing, tidak pernah akur.
Kolokasi : Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalm kalimat.
Contoh : Ibu membeli bumbu dapur, seperti bawang, terasi, garam, dan merica.
Metafora : Pengungkapan berupa perbandingan analogis (implisit) yang diungkapakan secara singkat dan padat yang membandingkan suatu benda tertentu dengan benda lain yang mempunyai sifat sama dengan menghilangkan kata seperti, layaknya, bagaikan.
Contoh : Jantung hatinya hilang tiada berita.
Antropomorfisme : Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.
Contoh : Aku berhenti berjalan di mulut gua.
Sinestesia : Metafora berupa ungkapan yang berhubungan dengan suatu indra untuk dikenakan pada indra lain.
Contoh : Sekilas memperdengarkan aroma surga.
Personifikasi : Pengungkapan dengan menyampaikan benda mati atau tidak bernyawa seolah-olah hidup memiliki sifat seperti manusia.
Contoh : Rumput bergoyang ditiup angin.
Depersonifikasi : Pengungkapan dengan menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa pada manusia. Biasanya menggunakan kata kalau, sekiranya, misalkan, bila, seandainya, seumpama.
Contoh : Bila bulan bisa ngomong, pasti jujur tak akan bohong.
Alegori : Majas perbandingan yang bertautan satu dengan yang lainnya dalam kesatuan yang utuh berupa cerita yang digunakan sebagai lambang yang digunakan untuk pendidikan.
Contoh : Iman adalah kemudi dalam mengarungi zaman.
Fabel : Alegori yang menyatakan perilaku binatang sebagai manusi yang dapat berpikir dan bertutur kata.
Contoh : Cerita kancil dan buaya.
Parabel : Alegori secara halus tersimpul dalam karangan itu pedoman hidup, falsafah hidup yang harus ditimba di dalamnya.
Contoh : Cerita Ramayana melukiskan maksud bahwa yang benar tetap benar.
Simbolik : Gaya bahasa yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan benda-benda lain sebagai simbol atau perlambang untuk menyatakan maksud.
Contoh : Keduanya hanya cinta monyet.
Tropen : Gaya bahasa yang menggunakan kiasan dengan kata atau istilah lain yang sejajar artinya terhadap pekerjaan yang dilakukan seseorang.
Contoh : Ia menjual suaranya untuk menafkahi keluarganya.
Metonimia : Gaya bahasa yang menggunakan nama, orang, hal, atau ciri sebagai pengganti barang tersebut.
Contoh : Ia mengendarai Jupiter untuk pergi ke sekolah.
Perifrasis : Menjelaskan suatu kata menjadi serangkai kata yang mengandung arti yang sama dengan kata yang digantikan.
Contoh : Wina telah menyelesaikan sekolahnya tahun lalu. (lulus)
Eponim : Menyebut nama seseorang begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu, sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan suatu sifat.
Contoh : Dengan latihan yang sunguh-sungguh, saya yakin anda akan menjadi Mike Tyson.
Epitet : Gaya bahasa yang menyatakan suatu sifat atau ciri yang khusus dari seseorang atau sesuatu hal.
Contoh : Putri malam menyambut kedatangan remaja yang sedang mabuk asmara.
Litotes : Mengecilakn atau mengurangi kenyataan sebenarnya dengan tujuan merendahkan diri.
Contoh : Mampirlah ke gubuk saya. (padahal rumahnya besar dan mewah)
Sinekdokhe :
a. Pars pro toto : Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.
Contoh : Saya belum melihat batang hidungnya.
b. Totem pro parte : Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.
Contoh : SMA 3 Yogyakarta memenangkan pertandingan basket tingkat propinsi.
Eufimisme : Pengungkapan kata-kata yang dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus untuk menjaga kesopanan atau menghindari timbulnya kesan yang tidak menyenangkan.
Contoh : Anak ibu lamban menerima pelajaran.
Disfemisme : Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.
Contoh : Pelacur itu ditangkap saat razia tadi malam.
Afostrof : Gaya bahasa yang berbentuk pengalihan amanat dari para hadirin kepada sesuatu yang tidak hadir.
Contoh : Wahai dewa yang agung datanglah dan lepaskan kami dari cengkraman durjana.
Hiperbola : Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan dengan maksud memperhebat sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.
Contoh : Ibu itu terkejut setengah mati ketika mendengar anaknya tidak lulus ujian nasional.
Alusio : Menunjukkan secara tidak langsung kepada tokoh atau peristiwa yang sudah diketahui bersama.
Contoh : Apakah Peristiwa Madiun akan terulang lagi?
Antonomasia : Gaya bahasa yang menyebutkan sifat atau ciri tubuh, gelar, atau jabatan seseorang sebagai pengganti nama diri.
Contoh : Yang Mulia tak dapat menghadiri pertemuan ini.
Prolepsis atau antisipasi : Gaya bahasa dimana orang mempergunakan lebih dahulu kata-kata atau sebuah kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebenarnya terjadi.
Contoh: Aku melonjak kegirangan karena aku mendapatkan piala kemenangan.
Okupasi : Gaya bahasa yang menyatakan bantahan atau kebenaran terhadap sesuatu yang oleh orang banyak dianggap benar.
Contoh : Minuman keras dapat merusak jaringan syaraf, tetapi banyak anak yang mengkonsumsinya.
Aptronim : Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.
Contoh : Juru bisikku, kau katakan dunia ini bermakna.
Hipokronisme : Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib.
Contoh : Sahabat, kau selalu ada di hatiku.
Majas Sindiran
Ironi : Sindiran halus dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut.
Contoh : Kami tahu bahwa kau orang yang jujur sehingga tak satu pun orang yang percaya padamu.
Antifrasis : Ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata dengan makna sebaliknya yang bisa saja dianggap sebagai ironi sendiri.
Contoh : Lihatlah sang raksasa telah tiba. (maksudnya si cebol)
Sinisme : Menyatakan sindiran secara langsung dan lebih kasar dari ironi.
Contoh : Harum benar baumu pagi ini, pasti kamu belum mandi.
Sarkasme : sindiran langsung paling kasar, bahkan kadang-kadang merupakan kutukan.
Contoh : Kau memang benar-benar bajingan.
Satire : Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengancam, menolak, atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dan lain-lain.
Contoh : Ya, Ampun! Soal mudah kayak gini, kau tak bisa mengerjakannya?
Innuendo : Sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya.
Contoh : Ia menjadi kaya raya karena mengadakan komersialisasi jabatannya.
Hipalase : Gaya bahasa yang berupa pernyataan yang menggunakan kata yang berlainan dengan yang dimaksudkan.
Contoh : Ia duduk pada bangku gelisah. (maksudnya ia gelisah)
Majas Pertentangan
Paradoks : Mengandung pertentangan nyata dengan fakta-fakta yang ada.
Contoh : Teman akrab adakalanya merupakan musuh sejati.
Oksimoron : Gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frase yang sama.
Contoh : Keramah-tamahan yang bengis.
Antitesis : Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya.
Contoh : Dia gembira atas kesedihanku hari ini.
Anakronisme : Ungkapan yang mengadung ketidaksesuaian antara peristiwa dengan waktunya dalam karya sastra dalam sejarah, sedangkan sesuatu yang disebutkan belum ada saat itu.
Contoh : Dalam tulisan Caesar, Shakespeare menuliskan jam berbunyi tiga kali. (saat itu jam belum ada)
Kontradiksi interminus : Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.
Contoh : Semuanya telah hadir, kecuali Sinta.
Histeron Proteron : Gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari sesuatu yang logis atau kebalikan dari sesuatu yang wajar.
Contoh : Bila kau memenangkan pertandingan itu berarti kematian akan kau alami.
Majas Penegasan
Pleonasme : Menggunakan kata-kata secara berlebihan yang sebenarnya tidak diperlukan pada pernyataan yang sudah jelas dengan maksud menegaskan arti suku kata.
Contoh : Darah merah membasahi baju dan tubuhnya.
Apofasis atau Preterisio : Gaya bahasa dimana penulis atau pengarang menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya menyangkal.
Contoh : Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa saudara telah menggelapkan ratusan juta rupiah uang negara.
Repetisi : Perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai.
Contoh : Tiada kata lain selain berjuang, berjang, dan terus berjuang.
Tautotes : Repetisi atas sebuah kata berulang-ulang dalam sebuah konstruksi.
Contoh : Aku adalah kau, kau adalah aku, kau dan aku sama saja.
Epizeuksis : Repetisi yang bersifat langsung, artinya kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut.
Contoh : Kita harus belajar, belajar, dan belajar untuk mengejar semua ketinggalan kita.
Paralelisme : Sama dengan repetisi, tapi biasanya terdapat dalam puisi dan pengungkapannya dengan menggunakan kata, frase, atau klausa yang sejajar.
Contoh : Bukan saja perbuatan itu harus dikutuk, tetapi juga harus diberantas.
Anafora : Repetisi yang berupa perulangan kata pertama pada setiap garis.
Contoh : Kucari kau karena cemas
Kucari kau karena bimbang
Kucari kau karena sayang
Epistofora : Repetisi yang berwujud perulangan kata atau frasa pada akhir kalimat berurutan.
Contoh : Bumi yang kau diami, laut yang kaulayari adalah puisi,
Udara yang kau hirup, air yang kau teguki adalah puisi.
Simploke : repetisi pada awal dan akhir beberapa baris atau kalimat berturut-turut.
Contoh : Kau bilang aku ini egois, aku bilang terserah aku. Kau bilang aku ini judes, aku bilang terserah aku.
Mesodiplosis : Repetisi di tengah-tengah baris-baris atau beberapa kalimat berurutan.
Contoh : Pendidik meningkatkan kecerdasan bangsa. Para dokter meningkatkan kesehatan masyarakat.
Pararima : Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kalimat atau bagian kata yang berlainan.
Contoh : Dia mondar-mandir kebingungan.
Sigmatisme : Pengulangan bunyi “s” untuk efek tertentu.
Contoh : Malaikat-malaikat kecil mengepakkan sayap-sayap kapas.
Epanelipsis : Pengulangan yang berwujud kata terakhir dari baris, klausa atau kata pertama.
Contoh : Saya akan berusaha meraih cita-cita saya.
Anadiplosis : Kata atau frasa terakhir dari suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frasa pertama dari klausa berikutnya.
Contoh : Dalam raga ada darah. Dalam darah ada tenaga. Dalam tenaga ada daya. Dalam daya ada segalanya.
Aliterasi : Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan.Contoh : Kau keraskan kalbunya.
Asonansi : gaya bahasa berupa perulangan bunyi vocal yang sama.
Contoh : Mati api di dalam hati.
Atanaklasis : mengandung ulangan kata yang sama tetapi maksudnya berbeda.
Contoh : Bisa ular itu bisa masuk ke sel-sel darah.
Kiasmus : Gaya bahasa yang terdiri dari dua bagian, yang bersifat berimbang, dan dipertentangkan satu sama lain, tetapi susunan frasa dan klausanya itu terbalik bila dibandingkan dengan frasa atau klausa lainnya.
Contoh : Ia menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah.
Tautologi : Mengulangi beberapa kali suatu kata dalam kalimat kata dengan menggunakan sinonimnya.
Contoh : Kejadian itu tidak saya inginkan dan tidak saya harapkan.
Klimaks : Menyatakan beberapa hal berturut-turut yang semakin lama semakin mengandung penekanan atau semakin meningkat.
Contoh : Hidup kita diharapkan berguna bagi saudara, orang tua, nusa, bangsa dan negara.
Antiklimaks : Menyatakan beberapa hal berturut-turut yang semakin lama semakin menurun.
Contoh : Bahasa Indonesia diajarkan kepada mahasiswa, SMA, SMP, dan SD.
Elipsis : Gaya bahasa yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca.
Contoh : Risalah berita yang menimpa ini.
Anastrof atau Inversi : Gaya bahasa yang dalam pengungkapannya predikat kalimat mendahului subjeknya karena lebih diutamakan.
Contoh : Diceraikannya istrinya tanpa sepengetahuan saudaranya.
Resentia : Gaya bahasa yang melukiskan sesuatu yang tidak mengatakan tegas pada bagian tertentu dari kalimat yang dihilangkan.
Contoh : “Apakah ibu mau…..?”
Erotesis atau Retoris : Pernyataan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar dan sama sekali tidak menghendaki adanya suatu jawaban.
Contoh : Tegakah membiarkan anak-anak dalam kesengsaraan?
Pun atau Paronomasia : Kiasan dengan menggunakan kemiripan bunyi.
Contoh : Tanggal satu gigi saya tinggal satu.
Koreksio atau Epanortosis : Gaya bahasa yang mula-mula menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memeriksa dan memperbaiki hal-hal yang dianggap keliru.
Contoh : Silakan Riki maju! Maaf, maksud saya Rini!
Asidenton : Gaya bahasa yang menyebutkan secara berturut-turut tanpa menggunakan kata penghubung agar perhatian pembaca beralih pada hal yang disebutkan.
Contoh : Ayah, ibu, dan anak merupakan inti dari sebuah keluarga.
Polisedenton: Gaya bahasa yang menyebutkan secara berturut-turut dengan menggunakan kata penghubung.
Contoh : Pembangunan memerlukan sarana dan prasarana juga dana serta kemampuan pelaksana.
Gradasi : Gaya bahasa yang mengandung beberapa kata yang diulang dalam konstruksi itu.
Contoh : Kita harus membangun, membangun jasmani dan rohani, rohani yang kuat dan tangguh, dengan ketangguhan itu kita maju.
Interupsi : Gaya bahasa yang menggunakan kata-kata atau bagian kalimat yang disisipkan di dalam kalimat pokok untuk lebih menjelaskan sesuatu dalam kalimat.
Contoh : Tiba-tiba ia-suami itu-disebut oleh perempuan lain.
Eksklamasio : Gaya bahasa yang menggunakan kata-kata seru atau tiruan bunyi.
Contoh : Wah, biar ku peluk, dengan tangan menggigil!.
Enumerasio : Beberapa peristiwa yang membentuk satu kesatuan, dilukiskan satu persatu agar tiap peristiwa dalam keseluruhannya tampak dengan jelas.
Contoh : Laut tenang, diatas permadani biru itu tampak satu-satunya perahu nelayan meluncur perlahan- lahan. Angin berhembus sepoi-sepoi. Bulan bersinar dengan terangnya. Disana-sini bintang-bintang gemerlapan. Semuanya berpadu membentuk suatu lukisan yang harmonis. Itulah keindahan sejati.
Praterito : Ungkapan penegasan yang digunakan pengarang untuk menyembunyikan atau merahasiakan sesuatu yang sebenarnya.
Contoh : Sudah, tak penting bagimu! Lupakan saja kata-kataku tadi!
Silepsis : Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis yang secara gramatikal benar.
Contoh : Ia sudah kehilangan topi dan semangatnya.
Zeugma : Gaya bahasa yang mepergunakan dua konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata yang lain sebenarnya hanya salah satunya yang cocok untuk salah satu dari dua kata yang lain.
Contoh : Kami sudah mendengar berita itu dari radio dan surat kabar.
Alonim : Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan sesuatu.
Sumber :
Wikipedia
Robihul Haq
Google